Menerbangkan Angan di Museum Layang-Layang Indonesia
Bagi sebagian besar orang, layang-layang adalah memori masa kecil yang
berkelindan dengan angin sore dan lapangan lapang. Namun, di berbagai belahan
dunia, lembaran kertas yang menari di angkasa ini memegang peran yang jauh
lebih sakral, bahkan kerap dilibatkan dalam ritual adat tertentu. Keunikan
filosofi dan keragaman bentuk inilah yang memicu para pencinta layang-layang
untuk mendirikan sebuah ruang abadi demi menjaga kelestariannya. Di ruang
itulah, keindahan visual dan kecanggihan teknologi aerodinamika tradisional
berpadu untuk dipelajari generasi penerus. Wadah itu bernama Museum
Layang-Layang Indonesia.
Lahirnya museum ini tidak lepas dari sosok Endang W. Puspoyo. Uniknya,
beliau adalah seorang pakar kecantikan yang justru jatuh hati pada dunia
kedirgantaraan tradisional. Kiprahnya dimulai sejak tahun 1985 saat ia
mendirikan Merindo Kites & Gallery. Didorong oleh kecintaan
yang mendalam, Endang akhirnya memantapkan langkah untuk membangun Museum
Layang-Layang Indonesia.
Dedikasi luar biasa ini membawa museum tersebut meraih pengakuan bergengsi
di tingkat nasional. Pada tahun 2004, museum ini menerima Penghargaan
Kepariwisataan Indonesia yang diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata saat itu, I Gede Ardika. Tak berhenti di sana, pada tahun 2011,
Museum Rekor Indonesia (MURI) menganugerahkan penghargaan atas rekor pemrakarsa
dan penyelenggara pembuatan layang-layang berbentuk belah ketupat (diamond) terbesar.
Meskipun sekilas terdengar sederhana, destinasi yang terletak di Jakarta
Selatan ini menyimpan pesona dunia. Tempat ini mencatatkan sejarah sebagai
museum layang-layang pertama di Indonesia, sekaligus menjadi yang ketiga di
dunia setelah China dan Malaysia. Saat menapakkan kaki di dalamnya, pengunjung
akan disambut oleh sekitar 600 koleksi yang terus bertambah seiring masuknya
sumbangan dari para pelayang daerah, pencinta layang-layang mancanegara, hingga
kreasi mandiri dari para karyawan museum.
Di dalam ruangan pameran, sejauh mata memandang, pengunjung tidak hanya
akan melihat kerangka bambu biasa. Museum ini memamerkan berbagai kategori
mulai dari layang-layang tradisional, kreasi modern, hingga layang-layang
olahraga. Daya tarik utama yang sering kali menggelitik rasa kagum adalah
jajaran layang-layang tiga dimensi yang menyerupai bentuk kumbang dan ikan, serta
yang terbuat dari bahan-bahan tak biasa seperti bulu-bulu, kain, hingga anyaman
yang rumit.
Beruntung bagi warga Jakarta, petualangan visual ini bisa dinikmati kapan
saja di Jalan H. Kamang Nomor 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Tidak sekadar
menjadi saksi mata keindahan yang dipajang, para pengunjung, terutama
anak-anak, juga bisa merasakan langsung pengalaman interaktif dengan belajar
membuat dan mewarnai layang-layang mereka sendiri.
Jika Anda tertarik untuk menghabiskan waktu akhir pekan bersama keluarga di
sini, museum ini menyambut kedatangan Anda setiap hari mulai pukul 09.00 hingga
16.00 WIB. Namun, pastikan Anda tidak datang saat hari libur nasional, karena
pintu museum akan tertutup rapat untuk umum.
